profil

Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan Prodi PGMI 2012

Kamis, 05 Juni 2014

makalah Pembelajaran QH MI

         I.               PENDAHULUAN
Al-Qur’an dan hadits merupakan pedoman utama dalam memberikan tuntunan berperilaku bagi umat Islam. Segala bentuk tata pelaksanaan berkehidupan manusia di muka bumi ini harus berdasarkan pada dua sumber utama ajaran Islam tersebut. Sehingga upaya untuk menggali petunjuk yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits harus terus menerus dilakukan. Proses penggalian makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadits merupakan tugas setiap muslim, yang dilakukan tanpa kenal lelah.
Belajar terus menerus untuk mendalami kandungan Al-Qur’an dan hadit smemang tidak mengenal batas umur. Meskipun demikian, jika proses mempelajari Al-Qur’an dan Hadits telah dimulai sejak dini, niscaya akan menghasilkan penguasaan yang lebih baik terhadap kandungan Al-Qur’an dan hadits. Usia anak-anak sekolah MI menjadi usia ideal untuk membelajarkan cara memahami kandungan Al-Qur’andan hadits. Proses pembelajaran memahami kandungan Al-Qur’an dan hadits sebagai kelanjutan dari proses pembelajaran mengartikan Al-Qur’an dan hadits.
      II.               RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian desain pembelajaran memahami Al-Qur’an dan Hadits?
2.      Apa saja tahapan dalam memahami Al- Qur’an dan Hadits?
3.      Apa saja bentuk-bentuk evaluasi pembelajaran memahami Al-Qur’an dan Hadits?
   III.               PEMBAHASAN
1.        Pengertian desain pembelajarn memahami Al - Qur’an dan Hadits.
a.     Desain pembelajaran memahami kandungan Al - Qur’an.
Memahami kandungan ayat-ayat Al - Qur’an menjadi ketrampilan yang sangat bagus yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Dengan mampu memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an akan memudahkan seseorang untuk mewujudkannya dalam amaliah praktis. Sehingga, jika proses untuk memahami kandungan Al - Qur’an ini telah dimulai sejak usia sekolah dasar, maka pengetahuannya tentang tata cara memahami kandungan Al-Qur’an akan lebih berkualitas. Terlebih lagi dalam melaksanakan isi kandungannya.
Di Madrasah Ibtidaiyah, ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dipelajari pemahaman kandungannya adalah ayat-ayat yang terdapat dalam surat-surat tertentu dalam juz amma. Maka dalam mengajarkan isi kandungan ayat-ayat tersebut harus mencakup kandungan seluruh ayat dari satu surat.
b.    Desain pembelajaran memahami kandungan hadits.
Pembelajarn memahami kandungan hadits merupakan kelanjutan dari pembelajaran mengartikan hadits. Setelah siswa mengetahui arti harufiyah dari sebuah hadits, maka murid diajarkan untuk memahami isi kandungannya. Dengan memahami kandungan suatu hadits ada gilirannya akan mengantarkan siswa melaksanakan apa yang telah dipahaminya. [1]
2.        Tahapan-tahapan dalam  memahami kandungan Al - Qur’an dan Hadits.
                                        a)       Tahapan memahami isi kandungan Al - Quran.
1)   Kita harus mengetahui dan memahami filosofi Islam sebagai agama yang mendapat ridha Allah SWT.
2)   Kita harus mengetahui tata karma membaca Al - Qur’an.
3)   Kita harus mengetahui bahwa di dalam Al - Qur’an itu banyak sekali surah atau ayat yang mengandung perumpamaan atau berupa perumpamaan.
4)   Kita harus mempergunakan akal ketika mempelajari dan memahami Al - Qur’an.
5)   Kita harus mengetahui bahwa di dalam Al - Qur’an banyak sekali surah atau ayat yang mengandung hikmah atau tidak bisa langsung diartikan, akan tetapi memiliki arti tersirat.
6)   Kita harus mengetahui bahwa Al - Qur’an tidak diturunkan untuk menyusahkan manusia dan harus mendahulukan surah atau ayat yang lebih mudah dan tegas maksudnya untuk segera dilaksanakan.
7)   Kita harus mengetahui bahwa ayat - ayat di dalam Al - Qur’an terbagi dua macam ( Q. S. Ali Imran : 7 ), pertama, ayat - ayat muhkamat yakni ayat - ayat yang tegas, jelas maksudnya dan mudah dimengerti. Ayat - ayat muhkamat adalah pokok - pokok isi Al - Qur’an yang harus dilaksanakan oleh manusia dan dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupannya. Kedua, ayat - ayat yang mutasyabihat adalah ayat - ayat yang sulit dimengerti dan hanya Allah yang mengetahui makna dan maksudnya.
8)   Kita harus menjalankan isi kandungan Al - Qur’an sesuai dengan keadaan dan kesanggupannya masing-masing.[2]
                                        b)      Tahapan memahami isi kandungan hadits.
Dalam memahami hadits ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi diantaranya yaitu:
1)        Memahami Al Hadits Sesuai Petunjuk Al Quran.
Untuk dapat memhami Al Hadits dengan pemahaman yang benar, jauh dari penyimpangan, pemalsuan, dan penafsiran yang buruk, maka kita haruslah memahaminya sesuai dengan petunjuk Al Quran.
2)        Menghimpun Hadits-Hadits yang Terjalin dalam Tema yang Sama.
Untuk berhasil memahami hadits secara benar kita harus menghimpun hadits shahih yang berkaitan dengan satu tema tertentu. Kemudian mengembalikan kandungan yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang mutlak dengan yang muqoyyad, dan menafsirkan yang ‘am dengan yang khosh. Dengan cara itu dapatlah dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak dipertentangkan antara hadits satu dan lainnya.
3)        Penggabungan atau Pentarjihan antara Hadits - Hadits yang Bertentangan.
Pada dasarnya nash-nash syari’ah tidak mungkin saling bertentangan. Sebab kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran. Karena itu, apabila diandaikan juga adanya pertentangan, maka hal itu hanya tampak dalam luarnya saja, bukan pada kenyataannya yang hakiki. Dan atas dasar itu kita wajib menghilangkannya dengan jalan seperti berikut:
a.         Penggabungan didahulukan sebagai pentarjihan.
Memahami hadits dengan baik termasuk hal yang sangat penting, yaitu dengan cara menyesuaikan antara berbagai hadits shohih yang redaksinya tampak solah - olah bertentangan, demikian pula makna kandungannya yang tampak berbeda. Cara yang digunakan yaitu dengan mengumpulkan semua hadits dan kemudian dinilai secara proporsional sehingga dapat dipersatukan dan tidak saling berjauhan, saling menyempurnakan dan tidak saling bertentangan.
b.        Naskh dalam hadits.
Diantara persoalan kandungan hadits yang dianggap saling bertentangan adalah persoalan naskh (penghapusan) atau adanya hadits yang nasikh (yang menghapus suatu ketentuan) dan yang mansukh (yang terhapus berlakunya). Persoalan naskh ini, ada hubungannya dengan ilmu-ilmu Al -Qur’an sebagaimana ada hubungannya juga dengan ilmu hadits, namun dakwaan tentang adanya naskh dalam hadits tidak sebesar yang didakwahkan didalam Al – Qur’an. Apabila diteliti lebih jauh hadits - hadits yang diasumsikan sebagai mansukh tidaklah demikian.
Hal ini mengingat bahwa diantara hadits-hadits ada yang dimaksudkan sebagai ‘azimah (anjuran melakukan sesuatu walaupun secara berat), dan ada pula yang dimaksudkan sebagai rukhsoh (peluang untuk memilih yang lebih ringan pada suatu ketentuan). Dan karena itu, kedua-duanya mengandung kadar ketentuan yang berbeda, sesuai dengan kedudukannya masing - masing.
4)        Memahami Hadits Sesuai Dengan Latar Belakang, Sitiuasi dan Kondisi Serta Tujuannya.
Untuk dapat memahami hadits nabi dapat dengan memperhatikan sebab - sebab khusus yang melatar belakangi diucapkannya suatu hadits, atau terkait dengan suatu ‘illah tertentu yang dinyatakan dalam hadits tersebut, ataupun dapat dipahami dari kejadian yang menyertainya
5)        Memastikan Makna dan Konotasi Kata-Kata dalam Hadits.
Dalam memahami hadits dengan sebaik - baiknya penting sekali untuk memastikan makna dan konotasi kata - kata yang digunakan dalam susunan kalimat hadits. Sebab, konotasi kata-kata tertentu adakalanya berubah dari suatu masa ke masa lainnya. Adakalanya suatu kelompok manusia menggunakan kata-kata tertentu untuk menunjuk pada makna-makna tertentu pula. Akan tetapi yang ditakutkan di sini adalah apabila mereka menafsirkan kata-kata tersebut yang digunakan dalam hadits (atau juga dalam al Quran) sesuai dengan istilah mereka yang baru (atau yang hanya digunakan dikalangan mereka saja). Disini akan timbul kerancuan dan kekeliruan.[3]
3.        Bentuk-bentuk evaluasi pembelajaran memahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits
Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakuakan oleh guru untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Dalam pembalajaran memahami kandungan Al-Qur’an dan hadits keterlibatan peran keluarga, terutama orang tua sangat mendukung dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
Dalam evaluasi pembelajaran memahami kandungan Al-Qur’an dan hadits terdapat dua penilaian yakni penilaian proses dan penilaian hasil.
                                        a)       Penilaian proses
Bentuk evalauasi yang tepat untuk dipakai menilai keberhasilan proses pembelajaran materi mamahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits adalah dengan teknik untuk kerja, untuk mengetahui seberapa bagus pemahaman siswa terhadap kandungan Al-Qur’an dan Hadits yang telah dipelajari.
                                        b)      Penilaian hasil
Bentuk evalauasi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran yang tepat untuk materi pembelajaran memahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits adalah tes obyektif dan subyektif dengan teknik lisan atau tulis. Tes ini akan dipakai untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami cara memahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits serta sikap mereka setelah menguasai cara memahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu dibutuhkan latihan-latihan yang bisa membantu siswa untuk menguasai materi ini dengan lebih baik.[4]
   IV.               KESIMPULAN
Desain memahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits, ketika memahami kandungan ayat-ayat Al - Qur’an menjadi ketrampilan yang sangat bagus yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Dengan mampu memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an akan memudahkan seseorang untuk mewujudkannya dalam amaliah praktis. Sedangkan memahami kandungan hadits  merupakan kelanjutan dari pembelajaran mengartikan hadits. Setelah siswa mengetahui arti harufiyah dari sebuah hadits, maka murid diajarkan untuk memahami isi kandungannya.
Tahap memahami Al-Qur’an dan Hadits. Ada beberapa tahap dalam memahami hadits yaitu, memahami al hadits sesuai petunjuk Al-Qur’an, menghimpun hadits-hadits yang terjalin dalam tema yang sama, penggabungan atau pentarjiahan antara hadits-hadits yang bertentangan, memehami hadits sesuai dengan latar belakang, situasi, kondisi serta tujuannya, memastikan makna dan konotasi kata-kata dalam hadits.
Dalam evaluasi pembelajaran memahami Al-Qur’an dan Hadits terdapat dua penilaian yakni penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses, Bentuk evalauasi yang tepat untuk dipakai menilai keberhasilan proses pembelajaran materi mamahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits adalah dengan teknik untuk kerja, untuk mengetahui seberapa bagus pemahaman siswa terhadap kandungan Al-Qur’an dan Hadits yang telah dipelajari. Sedangkan penilaian hasil, Bentuk evalauasi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran yang tepat untuk materi pembelajaran memahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits adalah tes obyektif dan subyektif dengan teknik lisan atau tulis.
      V.               PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat pemaklalah paparkan mengenai “desain dan evaluasi pembelajaran memahami Al-Qur’an dan Hadits”.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan pembaca.Kami menyadari bahwa dalam makalah kami ini masih banyak kekurangan, kami memohon kritik dan saran yang membangun dari teman-teman supaya makalah kami yang selanjutnya menjadi lebih baik lagi.




[1] Ahmad Lutfi, Pembelajaran Al-Quran dan Hadits, (Jakarta: DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM, 2009), hlm. 234-237
[4]Ahmad Lutfi, Pembelajaran Al-Quran dan Hadits,……., hlm240-241.

Senin, 26 Mei 2014

makalah psikologi anak

MAKALAH
Perkembangan Pada Masa Bayi dan Anak

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Anak
Dosen Pengampu: Dra. Ani Hidayati, M.Pd

Disusun oleh:
1.        Rizka Fitriani (123911095)
2.        Umi Mualifah (123911111)
3.        Diasih Azzahra (123911122)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.         LATAR BELAKANG
Psikologi menempatkan manusia sebagai objek kajiannya. Manusia sendiri adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Menyadari posisi manusia yang demikian, maka secara lebih jelas yang menjadi objek kajian psikologi modern adalah manusia serta aktivitas-aktivitas mentalnya dalam interaksi dengan lingkungannya. Interaksi manusia dengan lingkungannya mencakup wilayah yang sangat luas dan beragam. Sesuai dengan keragaman wilayah interaksi manusia dengan lingkungannya itu, maka muncullah cabang-cabang psikologi.[1]
Psikologi perkembangan pada prinsipnya merupakan cabang dari psikologi. Psikologi berasal dari istilah bahasa Inggris "psychology". Istilah ini pada mulanya berasal dari kata dalam bahasa Yunani "psyche" yang artinya roh, jiwa, atau daya hidup, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah "psychology" berarti "ilmu jiwa"
Menurut David G. Myers (1996) dalam Psikologi Perkembangan (2005), psikologi perkembangan adalah cabang psikologi yang mempelajari perubahan, dan perkembangan struktur jasmani, perilaku, dan fungsi mental manusia, yang biasanya dimulai sejak terbentuknya makhluk itu melalui pembuahan hingga menjelang mati.
Sedangkan menurut Richard M. Lerner (1967) dalam buku yang sama, merumuskan psikologi perkembangan sebagai pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi psikologis sepanjang hidup.[2]
Setiap individu yang dilahirkan kedunia ini pasti mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan. Mulai dari masa dalam kandungan hingga masa dewasa kelak. Pada setiap masa perkembangan tersebut memilik karakteristik dan ciri-ciri yang berbeda satu sama lain. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang perkembangan pada masa bayi dan masa anak.

II.      RUMUSAN MASALAH
1.        Bagaimana perkembangan seorang individu pada masa bayi ?
2.        Bagaimana perkembangan seorang anak ?

III.   PEMBAHASAN
1.  Perkembangan pada masa bayi
Ahli psikologi perkembangan membatasi periode masa bayi dalam 2 tahun pertama dari periode pascanatal. Masa bayi ini disebut juga sebagai periode vital, karena kondisi fisik dan psikologis bayi merupakan fondasi yang kokoh bagi perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya. Selama dua tahun pertama kehidupannya, perkembangan fisik bayi berlangsung sangat ekstensif. Mereka juga memiliki refleks yang didominasi oleh gerakan-gerakan yang terus berkembang. Dalam rentang waktu 12 bulan , bayi-bayi dapat duduk, berdiri, membungkuk, memanjat dan bahkan berjalan. Tahun kedua pertumbuhan fisiknya melambat, tetapi pada kegiatan seperti berlari dan memanjat pertumbuhannya justru berlangsung cepat.
Pada saat dilahirkan, panjang rata-rata bayi adalah 20 inci atau 50 cm, dengan berat 3,4 kg. Setelah bayi menyesuaikan diri dengan kegiatan makan melalui cara menghisap, menelan, dan mencerna, fisiknya bertumbuh dengan cepat. Bulan-bulan pertama kehidupannya berat badan bayi bertambah sekitar 5-6 ons per minggu. Pada tahun kedua, rata-rata pertumbuhan bayi mengalami perlambatan. Pada usia 2 tahun, berat bayi mencapai sekitar 13 hingga 16 kg dengan tinggi sekitar 32 hingga 35 inci.
Pada masa bayi, terlihat gerakan spontan yang disebut "refleks". Refleks adalah gerakan-gerakan bayi yang bersifat otomatis dan tidak terkoordinir sebagai reaksi terhadap rangsangan tertentu serta memberi bayi respons penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Sepanjang bulan pertama kehidupannya, kebanyakan refleks menghilang atau menyatukan dengan gerakan yang relatif disengaja atau penuh arti. Ketika mereka menguasai kemampuan ini, maka ia disebut "skill" atau keterampilan. Refleks dan skill disebut juga kemampuan motorik (motor abilities).[3]
Keterampilan motorik adalah gerakan-gerakan tubuh atau bagian-bagian tubuh yang sengaja, otomatis, cepat, dan akurat. Keterampilan motorik ini dapat dikelompokkan menurut ukuran otot-otot dan bagian-bagian badan yang terkait, yaitu keterampilan motorik kasar (gross motor skill) dan keterampilan motorik halus (fine motor skill).
Keterampilan motorik kasar, meliputi keterampilan otot-otot besar lengan, kaki, dan batang tubuh seperti berjalan dan melompat. Sedangkan motorik halus, meliputi otot-otot kecil yang ada di seluruh tubuh, seperti menyentuh dan memegang. Pada saat dilahirkan bayi masih mengalami kesulitan dalam mengontrol keterampilan motorik halusnya. Pada usia sekitar 4 atau 5 bulan, bayi baru mampu memiliki keterampilan menjangkau dan menggenggam dan selama 2 tahun pertama keterampilan tersebut semakin membaik.
Selain keterampilan motorik, bayi juga memiliki keterampilan sensorik. Bayi yang baru lahir telah dilengkapi dengan peralatan yang dirancang sedemikian rupa untuk mengumpulkan informasi. Alat-alat yang berfungsi untuk menangkap informasi disebut dengan indera (sense) atau sistem sensorik. Jadi semua informasi yang datang pada bayi melalui indera. Tanpa penglihatan, pendengaran, sentuhan, kecakapan, penciuman dan indera lain otak bayi akan terkucil dari dunia; bayi akan hidup dalam kebisuan, kegelapan, tanpa rasa, tanpa warna, dan kehampaan yang kekal.
Menurut hasil penelitian, bayi yang baru lahir memiliki kepekaan terhadap rasa, mereka akan memperlihatkan suatu ekspresi seperti senyum setelah diberi suatu larutan manis. Sebaliknya, mereka akan mengerutkan lidahnya setelah diberi suatu larutan asam. Riset terbaru yang dilakukan dengan menggunakan rekaman video tentang ekspresi wajah sebagai respon atau pengecapan, menyatakan bahwa bayi baru lahir dapat membedakan antara semua rasa, manis, asin, asam, dan pahit.
Bayi yang baru lahir juga telah memiliki reaksi terhadap berbagai bau, baik bau harum maupun busuk. Mereka juga dapat mengenali bau payudara ibu mereka. Dalam suatu penelitian, bayi-bayi yang minum ASI memperlihatkan suatu keinginan yang jelas atas bau kain pelapis payudara ibu mereka ketika berusia 6 hari. Tetapi, ketika mereka berusia 2 hari mereka tidak memperlihatkan keinginan ini. Hal ini menunjukkan bahwa bayi memerlukan beberapa hari untuk menyadari bau tersebut.
Brody, Zelazo, dan Chaika (1984) menemukan bahwa 3 hari setelah kelahiran bayi telah dapat membedakan antara suara-suara ucapan baru dan suara-suara yang telah didengar sebelumnya. Mereka juga terlihat merespon secara selektif terhadap ucapan orang dewasa. Menurut Hutt, et. all., (1968), respon selektif bayi yang baru lahir terhadap ucapan manusia memiliki arti penting bagi kelangsungan hidupnya, sebab ia menjadi bagian yang vital dalam perkembangan hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak. Hasil penelitian Muir dan Field (1979) juga menunjukkan bahwa sebagian besar bayi akan memutar kepalanya sekitar 90 derajat ke arah sumber datangnya suara. Bayi juga mampu memperlihatkan respon yang berbeda atas suara yang berbeda, serta kelihatan lebih sensitif terhadap suara manusia yang normal.
Bayi yang baru lahir telah mampu membuat diskriminasi dan menyeleksi berbagai stimulus visual, namun ketajaman visualnya, yaitu kemampuan untuk mendeteksi bagian-bagian secara terpisah dari target penglihatan, belum berkembang secara utuh. Menurut bagan Snellen ketajaman visual bayi dibawah 1 bulan berkisar antara 20/200 hingga 20/600. Hal ini berarti bahwa ketajaman penglihatan bayi berkisar antara 10 hingga 30 kali lebih rendah daripada penglihatan orang dewasa normal (20/20). Sejak usia 6 bulan hingga 1 tahun, ketajaman visual bayi tampak mendekati penglihatan orang dewasa normal, bahkan lebih baik, yakni 20/100.
Pada waktu bayi masih berada dalam kandungan ibunya, badannya telah membentuk sekitar 1,5 miliar sel-sel saraf per menit. Jadi pada saat dilahirkan bayi kemungkinan telah memiliki semua sel-sel otak yang akan dimiliki sepanjang hidupnya. Akan tetapi, sel-sel otak tersebut belum matang dan jaringan urat saraf masih lemah. Setelah lahir hingga usia 2 tahun, sel-sel otak yang belum matang dan jaringan urat saraf yang masih lemah itu terus bertumbuh dengan cepat dan dramatis mencapai kematangan, seiring dengan pertumbuhan fisiknya. Pada saat lahir, berat otak bayi 1/8 dari berat totalnya atau sekitar 25% dari berat otak dewasanya, maka pada ulang tahun kedua otak bayi sudah mencapai kira-kira 75% dari otak dewasanya.
Sejak tahun pertama dari usia anak, fungsi inteligensi sudah mulai tampak dalam tingkah lakunya. Umpamanya dalam tingkah laku motorik dan berbicara. Anak yang cerdas menunjukkan gerakan-gerakan yang lancar, serasi, dan koordinasi. Sedangkan anak yang kurang cerdas, gerakan-gerakannya kaku, dan kurang terkoordinasi. Anak yang cerdas cepat pula perkembangan bahasanya.
Perkembangan kemampuan motorik (berjalan) pada anak yang cerdas dimulai pada usia 12 bulan, anak yang sedang pada usia 15 bulan, yang moron 22 bulan, dan yang idiot 30 bulan. Dalam perkembangan bahasa (berbicara), anak yang cerdas mulai berbicara pada usia 16 bulan, moron 34 bulan, dan idiot 51 bulan.
Dilihat dari perkembangan kognitif menurut Piaget, usia bayi ini berada pada periode sensorimotor. Bayi mengenal obyek-obyek yang berada dilingkungannya melalui sistem penginderaan (seperti penglihatan dan pendengaran) dan gerakan motoriknya (refleks, seperti mengenyot dan menggerakkan kepala ke arah sumber rangsang). Meskipun ketika dilahirkan seorang bayi sangat bergantung dan tidak berdaya, tetapi sebagian alat-alat inderanya sudah langsung bisa berfungsi, seperti gerakan mengenyot dan mengisap puting susu ibunya.[4]

2.  Perkembangan pada masa anak
Masa anak-anak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak matang secara seksual, yakni kira-kira usia 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Sejumlah ahli membagi masa anak-anak menjadi dua, yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual (Hurlock, 1980).[5]
Perkembangan tanggapan anak, tidak terlepas dengan mempelajari teori-teori perkembangan pengamatan anak. Dalam polanya kedua aspek tersebut memang berbeda tapi antara keduanya saling terkait dan ada kesamaan yang mendasar yakni : adanya proses belajar mengenal atau menguasai obyek, atas stimulus yang datang kepadanya, dengan menggunakan potensi yang dimilikinya. Dan dikatakan tanggapan itu terkait dengan pengamatan sebab tanggapan itu sendiri merupakan hasil kenangan dari adanya proses pengamatan.
Perkembangan motorik dan sensorik pada anak tentunya berbeda dengan perkembangan pada masa bayi. Dalam perkembangan motorik unsur yang menentukan ialah otot, syaraf, dan otak. Motorik pada anak terlihat pada cara mereka memegang, berjalan, dan menyepak. Pada cara memegang mereka hanya akan asal memegang saja. Pada orang dewasa mereka berjalan hanya menggunakan otot-otot yang perlu saja, sedangkan ketika anak berjalan seolah-olah seluruh tubuhnya ikut bergerak. Cara menyepak yang dilakukan pada masa anak, mereka akan menggerakkan tangannya kedepan dengan berlebihan.[6]
Perkembangan bahasa pada anak, dari hasil penelitian diperoleh: Pertama, anak mempunyai kesanggupan untuk menyatakan apa yang terkandung dalam pikirannya dengan suara. Potensi itu mempunyai kemungkinan besar untuk dikembangkan. Kedua, bahasa merupakan suatu kelebihan untuk manusia sebagai dasar untuk membedakan antara subjek dan obyek. Khusus pada anak yang buta-tuli, mereka mempunyai cara atau tanda tersendiri untuk menyatakan isi hatinya.[7]
Suami istri Clara dan William Stern membagi perkembangan bahasa anak yang normal dalam 4 periode perkembangan yaitu:
1)    Prastadium. Pada tahun pertama: meraban, kemudian menirukan bunyi-bunyi.
2)    Masa pertama: 12-18 bulan. Stadium kalimat-satu-kata. Satu perkataan dimaksudkan untuk mengungkapkan satu perasaan atau satu keinginan.
3)    Masa kedua: 18-24 bulan. Mengalami stadium-nama. Pada saat ini timbul kesadaran bahwa setiap benda mempunyai nama. Jadi ada kesadaran tentang bahasa.
4)    Masa ketiga: 24-30 bulan. Mengalami stadium-flexi, (flexi, flexico = menafsirkan, mengikrabkan kata-kata).
5)    Masa keempat. Mulai usia 30 bulan keatas, stadium anak kalimat.[8]
Daya ingatan anak akan bersifat tetap jika anak telah mencapai kurang lebih 4 tahun. Selanjutnya daya ingatan anak akan mencapai intensitas terbesar atau terbaik dan kuat jika anak berumur 8-12 tahun, pada saat itu daya menghafal atau daya memorisasi dapat memuat sejumlah materi hafalan sebanyak mungkin.
Sebelum umur setengah tahun anak pada umumnya belum mengenal benda sekitarnya secara hakiki. Anak saat itu baru mengenal keadaan atau situasinya saja. Baru umur lebih dari setengah tahun secara perlahan lahan anak mulai mengenal lingkungannya.[9]

IV.   KESIMPULAN
Perkembangan manusia pada masa bayi dimulai dari usia 0 hingga 2 tahun. Masa bayi ini disebut juga sebagai periode vital, karena kondisi fisik dan psikologis bayi merupakan fondasi yang kokoh bagi perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya. Selama dua tahun pertama kehidupannya, perkembangan fisik bayi berlangsung sangat ekstensif. Mereka juga memiliki refleks yang didominasi oleh gerakan-gerakan yang terus berkembang.
Masa anak-anak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak matang secara seksual, yakni kira-kira usia 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Sejumlah ahli membagi masa anak-anak menjadi dua, yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual.

V.      PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun dengan segala keterbatasan. Oleh sebab itu kami membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya. Terimakasih atas perhatian pembaca. Semoga makalah kami bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, Munawar Sholeh. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
L, Zulkifli. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Yusuf LN, Syamsu. 2000. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
http://pujiekowati.blogspot.com/p/111-keadaan-psikologi-bayi-dan-anak.html diakses pada Kamis 20 Maret 2014 pukul 13.26 WIB




[1] Dra. Desmita, M.Si, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009) hlm.4
[2] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 33
[3] Desmita, Psikologi Perkembangan ..., hlm. 91-92
[4] Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000) hlm. 153
[5] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 127
[6] Zulkifli L, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 31
[7] Zulkifli L, Psikologi Perkembangan ..., hlm. 34
[9] Abu Ahmadi, Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: PT Rineka Cipta,2005) hlm. 90-94

Jumat, 13 September 2013

puisi

Bagai debu terhempas air
Butiran debu yang tertumpuk,,
Membuatku bingung untuk memilih yang mana debu terbaik...
Sulit bagiku mengambil satu debu,
Begitu cara tlah ku coba mengambiilnya..
Namun apa daya,, tak  da jua yang bisa ku dapat,,
                Aku mulai lelah,,
                Aku mulai pasrah,,
                Dan aku mulai menyerah,,,
                Tak da lg harapan,,,
Tapi,,entah mengapa ,,
Engkau  menghampiriku tanpa salam...
Menenangkan hati dan jiwa yang tlah lelah,,
                Kau mencoba mendekatiku,,
                Kau mencoba akrab denganku,,
                Semakin kau akrab denganku,,,,,,,
                Suara gemuruh ujan pun datang,,
                Mengacaukan suasana yang sesaat tenang,,
Perlahan demi perlahan air mulai menetes,,
Semakin deras, dan semakin deras tetesannya,,
Merusak kedekatan yang singkat kurasakan..
                Semua hancur,,,
                Semua hilang,,,
                Dan semua lenyap,,
                Dan kini tiada lagi debu yang tersisa,,

                Yang ada hanyalah daun dan air yang tak mungkin bisa bersatu tuk selamanya......